Supriyadi Sebut Dana GDM Tahun 2020 Baru Terealisasi Sekitar 11,8 Pesren

88

Metro independen – Program kebanggaan (unggulan) Hamas- Apri GDM dinilai Gagal. Anehnya masih dijual untuk merebut hati masyarakat dusun (desa). Kegagalan dari program tersebut bukan isapan jempol belaka, namun dapat dibuktikan melalui angka-angka realisasi setiap tahun selama program tersebut bergulir.

Hal yang tidak kalah penting, program dan janji politik pasangan Hamas-Apri tersebut tahun ini bahkan terancam tidak akan mampu direalisasikan 100 persen oleh pemkab bungo.

Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) kabupaten Bungo mengemukaan secara terang benderang terkait realisasi anggaran GDM untuk tahun 2020.

Kepala BPKAD Bungo, Supriyadi kepada awak media menjelaskan, terkait realisasi janji politik Hamas-Apri yaitu realisasi anggaran GDM terhitung per 12 November 2020 masih menyisakan 88,162 persen sisa yang harus dibayar pemda bungo kepada 141 dusun.

Artinya hutang janji politik Hamas-Apri hingga akhir tahun 2020 yang hanya menyisakan satu bulan lagi mustahil akan tercapai 100 persen.

“Anggaran GDM untuk 141 sebesar Rp35,250 miliar, namun baru terealisasi saat ini untuk BLT sebesar 1,1 miliar, Madin 1,7 miliar dan non BLT dan Madin sebesar 1,250 miliar,” papar Supriyadi, kepala BPKAD Bungo.

“Untuk dana GDM saya rasa tidak akan terealisasi 100 persen untuk tahun 2020 ini,” tambahnya.

Melihat kondisi ini, Defri, mantan Direktur Umum Pemenangan Hamas-Apri, turut bersuara. Terkait janji politik GDM Rp250 juta/dusun yang kini kembali dijual Hamas- Apri dinilainya sebagai program gagal.

Defri menyebutkan, bahwa Hamas-Apri tidak akan mampu merealisasikan janji politiknya kepada masyarakat dengan baik, dikarenakan pemkab bungo mengalami defisit yang luar biasa.

“Program GDM Hamas-Apri saya nilai gagal total. Tapi kenapa program ini dijual lagi oleh Hamas-Apri di Pilkada 2020, ditambah lagi bantuan modal untuk mak-mak dan millenial. Program ini gak masuk akal, yang Rp250 juta saja gak lancar bayarnya malah nambah janji untuk modal usaha masyarakat,” kata Defri.

Menurut Defri, program yang selalu dibangga-banggakan Hamas-Apri hanya manis diucapkan dalam kampanye saja, namun miskin realisasi. Mulai tahun pertama hingga memasuki tahun terakhir masa jabatannya, Hamas-Apri terseok-seok dalam menunaikan janji politiknya tersebut.

“Kita semua tahu, tahun pertama Hamas-Apri memimpin GDM cuma dibayar Rp150juta/dusun, itupun harus memangkas jumlah tenaga honorer dan gaji Honorer. Yang genap Rp250 juta itu hanya tahun 2018. Sementara tahun 2019 kalau gak salah sekitar 41 Dusun gak cair, dan baru dibayarkan awal tahun 2020 kemarin. Apalagi untuk tahun 2020 ini, dana GDM diprediksi tidak akan terealisasi 100 persen, karena Kabupaten Bungo diperkirakan mengalami defisit di atas 300 miliar,” terang Defri.

Selain program unggulan GDM, Defri juga mengulas janji politik Hamas-Apri lainnya yang gagal ditunaikan kepada masyarakat. Baik mengenai infrastruktur yang memadai, unggul bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat.

“Di visi dan misinya juga disebutkan akan mewujudkan perekonomian daerah yang tangguh dan masyarakat hidup layak berkecukupan. Tapi faktanya, ekonomi Bungo malah paling buruk di Provinsi Jambi saat ini. Karena Kabupaten Bungo akan mengalami defisit anggaran yang sangat tidak wajar,” tegasnya.

Dia mengajak masyarakat Kabupaten Bungo untuk lebih cerdas dan lebih jeli dalam memilih pemimpin pada 9 Desember mendatang.

“Jangan sampai kita salah lagi untuk memilih pemimpin, cukup sekali kita ditipu, dan jangan diulangi kesalahan yang sama,” pungkas Defri. (TMC)

Silahkan Komentar Berita nya