Angka Perceraian di Indramayu Sangat Tinggi, Rata-rata Setiap Bulannya,Seribu Pasangan Bercerai.

116

Metro independen – kondisi Pandemi Corana Covid-19 pada saat ini banyak memicu permasalahan ditengah masyarakat berawal dari kondisi perekonomian dan pendapatan masyarakat sangat minim .

Oleh sebab itu Didaerah indramayu banyak istri untuk mengajukan perceraian kepengadilan agama indramayu disebabkan suami tidak bekerja jadi pengangguran.

sesuai dengan pantauan awak media dilapangan hampir 150 orang lebih dalam setiap harinya mengajukan perceraian dengan alasan suami tidak bekerja kalau dihitung dalam jangka satu bulan hampir ribuan orang yang bercerai Didaerah Indra Mayu provinsiJawa barat.selasa (1/9/2020)pagi.

Pengaruh Pandemi Corona Covid – 19.menyebabkan kondisi ekonomi masyarakat bawahan sangat sulit karena kasus pemutusan hubungan kerja, dan banyak suami tidak mampu lagi memberikan nafkah kepada keluarga.

Setiap hari, ratusan warga yang ingin bercerai mendatangi Pengadilan Agama Indramayu.

Sesuai dengan pantauan awak media Didaerah indramayu suasana Kantor Pengadilan Agama Kelas Satu Indramayu dipadati ratusan pasangan suami istri yang mengajukan pemohon gugatan perceraian.

Bahkan, para pemohon mengantre hingga di luar area kantor.Humas Pengadilan Agama Kelas 1 Indramayu Kurniati mengatakan, dalam sehari, Kantor Pengadilan Agama Kelas Satu Indramayu mencatat sebanyak 100 berkas perkara pengajuan gugatan cerai.

Sejak pandemi hingga kini, gugatan yang masuk juga sudah mencapai 5.575 dan 80 persen di antaranya merupakan gugatan perceraian.

“Waktu belum ada Covid-19 rata-rata 50-an sampai 70 sehari, sekarang melonjak sampai dengan 100 perkara per hari. Sejak Covid-19 sampai sekarang sudah ada 5.500 perkara yang masuk,” kata Kurniati di Indramayu, Selasa (1/9/2020).

Meningkatnya angka perceraian pasangan suami istri ini seiring dengan dampak pandemi Covid-19 yang semakin terasa.

Banyak warga yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tidak bekerja selama beberapa bulan terakhir.

Suami yang biasanya mencari nafkah dan kehilangan pekerjaan di masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab utama perceraian keluarga.

Selain itu, guncangan perekonomian rumah tangga juga menjadi pemicu utama penyebab perceraian meningkat.

“Lebih banyak yang diajukan oleh istri daripada suami. Pemicu perceraian yang paling banyak karena faktor ekonomi. Pihak suami tidak bertanggung jawab dalam masalah nafkah sehingga istri ingin bercerai dengan suami,” katanya.

Salah satu pemohon gugatan perceraian, Ratna Sari mengatakan, dirinya hendak menggugat cerai suaminya.Dia ingin bercerai karena faktor ekonomi yang memburuk selama pandemi Covid-19.“Saya ingin bercerai karena persoalan ekonomi. Suami saya sudah enggak kerja gara-gara corona. Sebelumnya dia kerja di proyek. Ya mau bagaimana lagi, saya punya anak yang harus dibiayai,” paparnya.” ( Team,red )

Silahkan Komentar Berita nya