Kematian 4 ABK di Kapal Ikan China, Ahli: Masalah Lama yang Sulit Diatasi

101
Gambar para ABK kapal satu orang dilarung

Metro independen – Kematian empat orang Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia di kapal ikan berbendera China tengah menjadi sorotan pemberitaan media di Korea Selatan.Dalam video yang diberitakan, tiga orang ABK meninggal dunia di kapal kemudian dilarung ke laut. Sementara itu, satu ABK lainnya meninggal dunia di rumah sakit.

Dalam video tersebut pula, para ABK mengaku dipekerjakan selama 18 jam dalam sehari. Bahkan mereka bisa berdiri selama 30 jam, dengan enam jam istirahat.Video itu disebut sebagai bukti pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap ABK Indonesia.

Masalah lama yang sulit diatasi Peneliti Antropologi Maritim dari Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, Dr Dedi Supriadi Adhuri, menyebutkan bahwa kasus seperti ini merupakan masalah lama yang erat kaitannya dengan sektor perikanan.

“Kita (Indonesia) punya masalah serius perihal ini. Tidak hanya di kapal-kapal luar negeri, tapi juga di dalam negeri. Saya sendiri tidak kaget, karena masalah seperti ini dari dulu susah diatasi,” tutur Dedi kepada awak media, Jumat (8/5/2020).

Masalah apa yang dimaksud ? Dedi menyebutkan, permasalahan inti kasus tersebut adalah peraturan dan keterlibatan pemerintah dalam mengusahakan perlindungan terhadap pekerja perikanan. Hal itu berlaku baik dalam negeri maupun di luar negeri.

Padahal, perlindungan dari pemerintah itu berguna agar perbudakan dalam industri perikanan tidak terjadi.“Antara lain human trafficking lewat percaloan. Kemudian perlakuan terhadap ABK di kapal, kerja overtime, seringkali tidak dibayar. Fisik yang terkuras dan kurangnya makanan. Semuanya masuk dalam masalah slavery dalam sektor perikanan,” paparnya.

Mengenai pelarungan ABK Indonesia di kapal ikan China, Dedi berpendapat, perlakuan ABK China menunjukkan respect (hormat).Saya lihat perlakuan dari ABK China, mereka sembahyang. Ada respect dari nelayan lain terhadap jenazah. Bukan dibuang seperti membuang bangkai binatang,” tuturnya.

Pertanyaan lebih besar, menurut Dedi, adalah penyebab para ABK Indonesia meninggal dunia.“Kenapa sampai meninggal? Apakah sakit karena kewajaran, kelelahan bekerja melebihi waktu, atau terbatasnya pemenuhan kebutuhan. Pada kenyataannya memang kehidupan ABK seperti itu, karena tidak adanya pengawasan usai mereka tanda tangan kontrak kerja,” tuturnya.

Pada 2016, International Organization for Migration (IOM) beserta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Conventry University membuat laporan yang menujukkan kasus human trafficking dan kriminalitas dalam industri perikanan Indonesia.

“Negara (pemerintah) punya keterbatasan untuk mengawasi para ABK. Apalagi kalau beroperasi offshore. Nelayannya sendiri tidak terkoneksi ke pihak pemerintah,” tambah Dedi.

Beralihnya nelayan Indonesia dari dalam ke kapal luar negeri juga ada penyebabnya. Dedi menyebutkan mayoritas nelayan berasal dari Jawa. Lokasi mencari ikan, yaitu Laut Jawa dan Selat Malaka, sudah overexploitated sejak lama.

“Laut Jawa dan Selat Malaka itu sudah overexploitated sejak tahun 1980-an. Tidak terlalu menguntungkan lagi bagi nelayan. Oleh karena itu mereka pergi ke timur (Indonesia) atau ke luar negeri,” tambah ia.( Team,red )

Silahkan Komentar Berita nya