H+2 Idul Fitri 1440 H, Pengunjung Candi Muarojambi Capai 2500 Orang

KOMPLEK SITUS CANDI: Hari kedua Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1440 H/2019 M, pengunjung situs purbakala di Komplek Candi Muarojambi di Desa Muarojambi, Kecamatan Marasebo, Kabupaten Muarojambi mencapai 2500 orang, Kamis (6/6/2019). Situs Candi Muarojambi yang jaraknya sekitar 40 kilo meter (KM) dari Kota Jambi dengan mencapai luas lebih 12 KM persegi menjadi obyek wisata sejarah budaya di Provinsi Jambi.

METRO INDEPENDEN -Hari kedua Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1440 H/2019 M, pengunjung situs purbakala di Komplek Candi Muarojambi di Desa Muarojambi, Kecamatan Marasebo, Kabupaten Muarojambi mencapai 2500 orang, Kamis (6/6/2019). Situs Candi Muarojambi yang jaraknya sekitar 40 kilo meter (KM) dari Kota Jambi dengan mencapai luas lebih 12 KM persegi  menjadi obyek wisata sejarah budaya di Provinsi Jambi.

Arief, seorang petugas Restribusi Komplek Situs Candi Muarojambi kepada Jambipos, di Pos Restribusi Komplek Situs Candi Muarojambi, Kamis (6/6/2019) mengatakan, hari kedua Idul Fitri 1440 H, jumlah pengunjung dari karcis retribusi yang terjual mencapai 2.500 orang.

Menurutnya, retribusi memasuki Komplek Situs Candi Muarojambi sebesar Rp 10.000/ orang. Disebutkan, pengunjung bisa mengelilingi Situs Candi Muarojambi sebagai komplek peninggalan purbakala terluas di Indonesia yang membentang dari Barat ke Timur dengan jarak 7,5 kilometer di tepian Sungai Batanghari, dengan luas kurang lebih 12 KM persegi.

Kawasan Wisata Terpadu

Sementara sejak komplek Situs Percandian Muarojambi dijadikan sebagai sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kompleks Candi Muarojambi, September 2011 lalu, Candi Muarojambi mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal dan manca negara.

Jumlah wisatawan pengunjung Candi Muarojambi kini mencapai 6.000 perbulan. Pemandu kawasan wisata Candi Muarojambi, Muhammad Havis alias Ahok mengatakan, meski masih didominasi wisatawan lokal, jumlah pengunjung di situs percandian terluas di Asia Tenggara itu terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Mungkin ini disebabkan maraknya pemberitaan tentang Candi Muarojambi ini sehingga wilayah ini makin dikenal publik dan banyak yang ingin mengunjunginya,”katanya.

Dikatakan, hingga April 2019, jumlah kunjungan wisatawan rata-rata lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya tercatat antara 3-4 ribu perbulan.

Meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke Candi Muarojambi sangat berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat setempat, khususnya bagi warga yang banyak membuka usaha di dalam kawasan candi tersebut.

Salah satunya adalah usaha sewa sepeda, becak. Di dalam kawasan itu terdapat sekurangnya 10 orang warga yang menyewakan jasa sepeda bagi pengunjung yang ingin mengelilingi kawasan situs percandian seluas kurang lebih 17 kilometer persegi itu.

“Tarif sewa sepeda  itu Rp20.000 perjam, sedang jumlah sepeda mencapai ratusan unit. Pendapatan rata rata perbulan bidang usaha ini bisa mencapai Rp3 juta,”katanya.

Kemudian banyaknya pengunjung juga dimanfaatkan warga untuk berjualan makanan maupun sewa penginapan. Kondisi itu juga dirasakan para anggota pemandu wisata Candi Muarojambi atau Dwarapala Muda Muarojambi, yang banyak menawarkan jasa pemandu wisata.

Ahok berharap pemerintah Provinsi Jambi maupun Kabupaten Muarojambi lebih memperhatikan upaya pelestarian Candi Muarojambi dan menambah fasilitas pendukungnya untuk kenyamanan pengunjung.

Di kawasan hutan belukar sekitar 40 kilometer dari Kota Jambi terdapat sederet situs kepurbakalaan dengan areal sangat luas, yakni mencapai 12 kilometer persegi atau terluas diseluruh situs purbakala yang ada di negeri ini.

Berbagai Candi di areal inilah dijumpai sedikitnya 82 candi berbagai ukuran. Semua candi kini terawat dengan rapi dibawa pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala yang beralamat di Kota Jambi.

Dulunya tempat ini belum banyak dikenal orang kecuali penduduk setempat. Baru tahun 1820 secara terbatas situs ini mulai terungkap setelah kedatangan S.C Crooke, seorang perwira Inggris, ketika dalam tugasnya mengunjungi daerah pedalaman Batanghari.

Kemudian dilanjutkan seorang sarjana Belanda, bernama F.M Schnitger dalam ekspedisi kepurbakalaan di Wilayah Sumatera tahun 1935 -1936. Sejak itu pula situs ini mulai terkenal.

Berawal dari itulah, maka sejak tahun 1976 hingga kini situs ini mulai secara serius dilakukan penelitian dan preservasi arkeologi.

Di dalam situs tidak hanya terdapat beberapa buah Candi, tetapi juga mennyimpan berbagai artefak kuno,seperti arca, keramik, manik-manik, mata uang kuno serta berbagai jenis peninggalan lainnya.

Terdapat delapan kompleks percandian , kolam kuno bagi penduduk setempat disebut kolam tanggorajo serta diperkirakan lebih dari 60 buah menapo atau gundukan tanah reruntuhan sisa bangunan kuno.

Dijumpai juga sedikitnya enam kanal atau parit-parit kuno buatan manusia masa lalu, diberinama Parit Sekapung, Johor dan Melayu.

Dalam kawasan candi ini diduga masih banyak candi atau benda lainnya yang belum terkelola, akibat keterbatasan tenaga dan kondisi geografis kawasan itu sebagian hutan belukar, sehingga sulit untuk dikerjakan( TEAM )

Silahkan Komentar Berita nya