Pilihlah Pemimpin yang Tidak Minta Dipilih

ARTIKEL3632 Dilihat

Metro independen — Profesi sebagai Pemimpin saat ini sungguh menggiurkan, Hampir semua orang yang aktif dalam organisasi publik, organisasi bisnis, organisasi birokrasi dan organisasi politik menginginkan kue kekuasaan yang disebut “PEMIMPIN”.

Dan ternyata memang, makhluk bernama “PEMIMPIN”, mampu menyedot perhatian banyak orang, dari kelas teri sampai kelas kakap.

Di kota bernama Dumai, kota nan cantik, molek, seksi, kaya financial sekaligus kaya masalah, akan menuju kota metropolis nan populis, menjadi tujuan investasi paling menarik di bidang perdagangan, wisata, industri dan lain-lain.

Kini mejadi sorotan publik, lantaran terjadi kekosongan jabatan Wakil walikota sampai saat ini.

Saya yakin hampir sebagian orang sedang bermimpi bagaimana meretas jalan menuju kursi “Wawako”, yang di tinggal pemimpin kharismatik Amris (Alm).

Persoalannya, ada yang berani maju karena didukung oleh beberapa factor, antara lain; kekuatan politik, finansial, hegemoni kelompok, dukungan masyarakat tertentu, dan lain-lain. Dan ada yang tidak berani maju karena tidak punya basis politik, tidak punya fulus dan tidak kuat dukungan.

Jaman edan sekarang ini; pintar, cerdas, intelek, punya dukungan massa, punya integritas, terkenal dan lain-lain, bukan jaminan seseorang bisa maju dalam kancah pertarungan politik. Karena filosofi negara yang berlaku saat ini adalah; “Siapa Kuat Hebat..”. Kuat disini maksudnya; dukungan politik, finansial, kuat ‘molitikin’ lawan, berjanji manis, menutupi kebohongan diri, mempromosi diri yang baik-baik dan kuat mensiasati atau menjegal popularitas lawan atau rival.

Kasus kekosongan Wawako jelang pelaksanaan Pilkada 2024, ada beberapa kandidat menyusun kalimat indah untuk menjerat perhatian publik. Semisal; “Kami dari Ikatan Keluarga Besar Harimau atau Ikatan Keluarga Besar Seberang, Pantas Pegang Tampuk Kekuasaan sebagai Wawako…”, karena merasa peranannya besar.

READ  Datuk Paduko Berhalo II.

Memperhatikan jargon-jargon mereka, sungguh sangat menggelitik dan menggiring masyarakat kepada sebuah pertanyaan; Anda..!! Bagaimana membuktikannya…?? Apa yang Anda Bangun…?? Emang Anda Amanah Jika Menjabat…!? Sedang calon Bos anda saja melenceng…!! Jangan-jangan dua-duanya nanti melenceng
melayani rakyat…!!

Tidak harus dibuktikan setelah menjabat..! Mestinya buktikan dulu sebelum menjabat…!!

Pertanyaan itu pasti mengalir demikian deras di kalangan masyarakat, tapi pasti hanya sebatas di pikiran saja. Tidak sampai meluap ke permukaan.

Intinya, dengan berbagai cara mereka berusaha dipilih dan terpilih. Anehnya, cara-cara dilakukan seringkali tidak edukatif, tidak bermartabat dan tidak menunjuk sebagai seorang professional.

Cara-cara yang dilakukan seringkali menabrak etika kepemimpinan, menabrak batas-batas kemanusiaan, sendi-sendi keagamaan.

Dimanapun di Indonesia, seringkali calon Pemimpin membangun eksistensi diri tidak dengan kedepankan esensi sebuah visi yang di tetapkan.

Hanya dimanfaatkan untuk membangun sebuah opini yang tidak ada kaitan dengan visi-misi…!!

Ada juga Pemimpin mencoba membeli perhatian publik dengan mencitrakan diri sebagai sosok Agamais, Islamis, Reformis dan segala yang is lainya. Membangun citra dirinya melalui kegiatan keagamaan, ritual keagamaan dan kegiatan sosial.

Semoga Pemimpin kita kelak benar-benar berangkat dari sebuah karakter, kebiasaan dan dari akhlaq yang mulia. Tidak karena tendensi apapun.

Maaf, kritik yang dilakukan penulis tidak dalam rangka memojokkan dan tidak untuk mendiskriditkan siapapun. Tapi ini hak partisipasi warga, agar kita semua dan siapapun meluruskan serta memperbaiki niat, untuk Kota Dumai yang kita cintai.

Saya sangat cinta dan sangat mendukung para calon Wawako Pemimpin masa depan. Tentunya calon pemimpin yang benar-benar ikhlas dari lubuk hati ingin mengabdi dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Namun ingat…!! PPP sudah putuskan harga mati satu orang, yaitu Syamsul Bahri. Berdasarkan informasi ketua PPP. (Penulis : Suriyanto dan tim.red )