Tak Cuma AS-Iran, India-Malaysia juga Panas & Harga CPO Drop

Metro indepnden – Jelang istirahat siang perdagangan hari ini, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bergerak turun. Kabar India meminta pelaku industri untuk stop beli produk minyak sawit Malaysia buat harga CPO drop.

Rabu (8/1/2020), harga CPO kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malayisa Derivatif berada di level RM 3.039, terpangkas tipis 0,1% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Harga CPO sempat mencetak level tertingginya pada 2 Januari 2020 di RM 3.130/ton.

Harga CPO mengalami koreksi akhir-akhir ini karena pasar dipenuhi kekhawatiran merespon situasi panas hubungan Amerika Serikat (AS)-Iran. Tensi makin meninggi kala pimpinan militer Iran Jenderal Qassem Soleimani tewas karena serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad.Tak tinggal diam, pagi tadi Iran melakukan serangan balasan dengan menghujani pangkalan militer gabungan AS-Irak di Al Asad dengan roket.
Konflik yang bergulir ditakutkan mengganggu jalur pengiriman komoditas ini. Pasalnya India dan Pakistan selaku konsumen minyak sawit berada di dekat lokasi konflik. Hal tersebut menyebabkan biaya pengiriman menjadi lebih mahal.

Faktor lain yang juga turut berperan membuat harga CPO terkoreksi adalah kabar India meminta pelaku industri pengolahan minyak sawit untuk tak beli minyak sawit dari Malaysia.

India secara informal telah meminta pelaku industrinya tak membeli minyak sawit dari Malaysia. Hal tersebut menyusul pernyataan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad yang mengkritik undang-undang kewarganegaraan India yang baru dan dirasa terlalu mencampuri urusan internal India.

“Mohon maaf saya melihat India yang mengklaim sebagai negara sekuler ternyata sekarang sedang mengambil tindakan untuk menghilangkan status kewarganegaraan penduduk muslimnya.” Begitu kata Mahathir di acara Kuala Lumpur Summit 2019 akhir Desember lalu, melansir India Today.

Hal tersebut kemudian direspon oleh India melalui keterangan Kementerian Luar Negerinya.”Menurut laporan media, Perdana Menteri Malaysia lagi-lagi berkomentar tentang masalah yang sepenuhnya internal India.

Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan mengatur kewarganegaraan melalui naturalisasi agar dapat dilacak dengan cepat untuk kelompok bukan warga negara minoritas yang dianiaya dari tiga negara.

Undang-undang itu tidak berdampak apa pun pada status warga negara India mana pun, atau mencabut kepercayaan orang India dari kewarganegaraannya,” kata pernyataan itu
Reuters melaporkan, salah seorang pejabat India sudah meminta industri terkait penghentian pembelian minyak sawit dari Malaysia. “Pada Pertemuan Senin, kami telah menghimbau untuk menghindari pembelian minyak sawit dari Malaysia.” Kata pejabat itu.

“Kami memiliki berbagai agenda pertemuan anatara pemerintah dan industri untuk memikirkan bagaimana caranya untuk mengurangi impor dari Malaysia.” Tambahnya.

Walaupun belum ada pernyataan resmi dari pemerintah India,tetapi upaya tersebut dilakukan untuk memberikan sanksi pada Malaysia yang dinilai terlalu mencampuri urusan internal negara tersebut.

Namun harga CPO tak anjlok dalam dan tetap berada di posisi yang tinggi karena masih ada nada cemas di pasar merespon penurunan output dan persediaan di kala permintaan domestik di Indonesia dan Malaysia menguat.

Malaysia dijadwalkan mulai akan mulai program B20 pada 20 Februari nanti. Kebutuhan minyak sawit yang untuk program tersebut diperkirakan mencapai 500 ribu ton lebih menurut keterangan Menteri Perindustrian Malaysia Teresa Kok.( Team )

Silahkan Komentar Berita nya